Menyulut nasionalisme anak muda dari peristiwa sejarah 1.000 Km Anyer-Penarukan
Peristiwa 1.000 Km Anyer-Penarukan yang kita kenal saat ini merupakan peristiwa penting dalam sejarah Tentara Militer Indonesia. Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) yang membentang sepanjang ±1.000 km dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Situbondo, Jawa Timur) pada masa penjajahan Belanda sangat erat kaitannya dengan strategi politik, militer, dan ekonomi di masa pemerintah kolonial Napoleon Bonaparte (Perancis, yang saat itu menguasai Belanda) untuk memperkuat pertahanan Jawa dari ancaman invasi Inggris di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.
Jalan yang dibangun dengan sangat cepat dari tahun (1808–1809 M) yang sebagian besar di garap dengan sistem kerja paksa (Rodi). Dari upah yang tidak layak tersebut menyebabkan penderitaan besar dan menelan banyak korban jiwa rakyat pribumi.
Peristiwa 1.000 km Anyer-Penarukan sangat menarik dan perlu bagi kalangan anak muda untuk di jadikan refleksi akan sejarah pahit bangsa Indonesia saat itu untuk di jadikan stimulus menyulut jiwa nasionalisme anak muda.
Adapun tujuan Strategis Militer, Jalan tersebut bertujuan untuk mempercepat mobilisasi pasukan belanda dan logistik militer dari barat ke timur Pulau Jawa. Tujuan lainnya adalah konsolidasi Kekuasaan dan Administrasi Kolonial melalui Jalan Raya Pos menjadi alat untuk memperkuat dan mempermudah kontrol pemerintahan kolonial Belanda di seluruh Pulau Jawa yang sebelumnya sulit untuk di akses. Dan tujuan lainnya yakni untuk kepentingan ekonomi dan perdagangan yang akan menjadi jalur utama agar mempercepat arus perdagangan dalam mengangkut hasil bumi dari pedalaman menuju pelabuhan-pelabuhan utama.
Jalan raya pos yang membentang ±1.000 km dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Situbondo, Jawa Timur) menjadi simbol kemajuan teknologi, kekuasaan dan kekuatan belanda di wilayah jajahannya dengan membangun infrastruktur besar dalam waktu sangat singkat dengan cara menindas rakyat pribumi.
Lantas dari peristiwa sejarah kelam tersebut. apa yang dapat kita petik untuk menyulut rasa nasionalisme anak muda?
Belajar tentang sejarah merupakan bagian dari proses pembelajaran yang menggali asal-usul, perkembangan, serta kontribusi masyarakat di masa lampau. Hal ini juga melibatkan penelusuran terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang dapat membentuk kepintaran, sikap, karakter, dan kepribadian peserta didik (Sapriya, 2012:209-210).
Menurut Sartono Kartodirdjo, pemahaman terhadap sejarah oleh manusia memiliki dampak signifikansi yang sangat penting dalam upaya membangun dan memelihara kebudayaan bangsa. Kesadaran terhadap sejarah tidak sekadar bertujuan untuk memperluas pengetahuan semata, melainkan harus difokuskan pada pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai budaya yang relevan dengan tujuan pengembangan kebudayaan itu sendiri. Dalam konteks penyempurnaan budaya bangsa, kesadaran sejarah memegang peran kunci dalam membangkitkan kesadaran bahwa sebuah bangsa terbentuk sebagai satu entitas sosial melalui serangkaian peristiwa sejarah yang membentuk identitas kolektifnya.
Oleh karena itu, penting bagi kalangan muda untuk menyadari bahwa pendidikan sejarah dan pemahaman sejarah lokal memiliki peran vital sebagai sarana untuk mewariskan nilai-nilai karakter dari masa lampau kepada generasi mendatang.
Oleh karena itu, dapat kita tarik benang merah dari peristiwa sejarah kelam 1.000 km Anyer-Penarukan untuk di jadikan titik tolak dalam menyadari pentingnya kedaulatan bangsa, hak asasi manusia, pembangunan yang berkeadilan dan memahami bahwa nasionalisme bukan hanya soal simbol, namun kesadaran anak muda akan nilai perjuangan, pengorbanan dan tanggung jawab untuk menjaga, membangun bangsa dengan adil dan beradap.
Komentar
Posting Komentar